Mengenai Haluan yang Berganti

Hai halo! Halo hai!

Sudah lumayan lama sepertinya tidak menulis apapun di blog ini. Kali ini saya akan menceritakan sesuatu yang lumayan hits di kalangan awardee LPDP (dan lumayan sering ditanyakan oleh orang-orang di sekitar saya T_T) yaitu mengenai perpindahan tujuan universitas.

Disclaimer. This was not a good thing to do. Idealnya, ketika seseorang mendaftar beasiswa LPDP, ia harus sudah tahu mau ke mana ia melanjutkan studi dan mengapa di sana. Spesifik. Mengapa harus program A di universitas B di negara C, mengapa bukan program D di universitas E di negara F. SUNGGUH SAYA MERASA BERSALAH.

Nah, mari kita runut dari awal.

Saya sejak dulu bercita-cita sekolah di luar negeri, di Eropa. Tapi sejujurnya saya adalah orang yang (sebelumnya) sangat awam mengenai perguruan tinggi di luar negeri. Kenapa? Karena bisa dibilang, tidak ada seorang pun di sekitar saya yang sekolah di luar negeri, atau bahkan ke luar negeri secara umum, baik di rumah, di sekolah, maupun di universitas. Yah, kita semua tahu bahwa Harvard University bagus, bahwa Oxford University bagus, tapi pernah dengar soal Imperial College London? ETH Zurich? Johns Hopkins University? Nggak? Sama, saya dulu juga nggak. Saya baru tahu belakangan ini bahwa itu semua top 11. Saya sungguh lugu dan polos, sama lugunya seperti anak desa yang dikasih tahu bahwa cari pekerjaan itu di Jakarta. *ketawa malu*

Berbekal keluguan dan niat yang tulus untuk sekolah, berangkatlah saya googling-googling program studi yang sesuai dengan keinginan saya. Kenapa keinginan? Karena saat ini, jujur saja, saya nggak punya kebutuhan yang spesifik. Dosen bukan, peneliti bukan, pegawai bukan. Apapun yang saya pelajari nanti bebas, terserah saya kepinginnya jadi apa nanti. Dan saya ingin belajar mengenai energi berkelanjutan (sustainable energy), terutama energi dari laut. Oleh karena itu, saya mencari program studi di universitas-universitas di Britania Raya. Yap, hanya Britania Raya. Kenapa? Karena satu, pencipta rumus dan peneliti besar pembangkit listrik tenaga arus laut berasal dari sana, dua, saya tahu di sana sudah ada pembangkit listrik tenaga arus yang bekerja secara penuh dan komersil, tiga, semua mata kuliah pasti diajarkan dalam bahasa inggris. Saya nggak mau belajar bahasa baru untuk kuliah.

Okay, so UK it was. Bermodalkan daftar nama universitas yang diterima oleh LPDP, saya memulai pencarian. Caranya, saya google nama universitas tersebut, lalu di search box saya ketik 'energy', lalu jika di universitas tersebut ada program studinya, akan saya buka dan saya salin seluruh keterangannya ke Ms. Word. Yap, semua keterangannya, termasuk deskripsi, kurikulum, masa studi, biaya, dan jadwal pendaftaran. Setelah berhari-hari berkutat di depan laptop, akhirnya saya punya daftar panjang. Mulailah fase kedua pencarian universitas : telaah kurikulum. Saya baca satu-satu kurikulumnya, saya banding-bandingkan, saya cari tahu isi mata kuliahnya, lalu saya tandai universitas yang menurut saya kurikulumnya oke. Tersisa beberapa universitas. Lalu saya buat matriks perbandingan, saya bandingkan satu per satu. Jeng jeng jeng jeng jeng akhirnya saya memilih...Sustainable Energy Futures di Imperial College London. Asli, saya suka banget baca kurikulumnya. Udah gitu, course descriptors dari kampus jelas sekali, jadi sudah tahu apa yang diharapkan dari masing-masing mata kuliah. Betapa senangnya.

Singkat cerita, saya mendaftar LPDP dengan memilih program Sustainable Energy Futures MSc di Imperial College London (ICL). Tentu saja saya belum mendaftar ke universitas itu, karena ketika saya mendaftar LPDP pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 belum dibuka. Kemudian, sekitar seminggu dari seleksi substantif, saya chatting dengan seorang teman melalui facebook. Teman saya ini awardee LPDP juga, jauh sebelum saya, sekarang sedang kuliah di Osaka University, Jepang. Kurang lebih percakapan saya begini:

Saya (A) : aku minggu depan wawancara nih
Temen (T) : oiya? suksess!!
A : btw, universitas yang aku pilih masa secara ga sengaja ada di 50 besar versi LPDP deh
T : emang kamu daftar mana?
A : Imperial College London?
T : eh, itu mah bukannya 20 besar ya?
A : .......emasa.
T : iya tau
A : *google ranking ICL...ranking 8 dunia* I'M SO DAMNED.
T : nah, you can do it
A : *panik* *nangis*
Yak. Saya nangis di depan laptop karena panik T_T

Lalu saya meneguhkan hati dan jiwa untuk wawancara. Benar saja ketika wawancara saya ditanya.

Pewawancara : saya tahu Imperial College London adalah institusi yang sangat terkenal..
Saya (dalam hati) : amasa -_-
Pewawancara : ...tapi boleh tolong dijelaskan apa yang membuat Anda akhirnya memilih institusi ini?
Saya (sambil senyum malu) : Pak, sejujurnya saya sebelumnya tidak tahu bahwa universitas ini sangat terkenal. Saya hanya mencari program studi yang menurut saya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan saya. Program studi yang saya pilih ini sangat komprehensif, mencakup berbagai aspek mulai dari teori, praktik, hingga aplikasi secara ekonomi. Bila dibandingan dengan program studi sejenis seperti di University of Manchester dan Newcastle University, program studi di Imperial College London memiliki kurikulum yang paling baik dalam hemat saya.

Lalu terdiamlah pewawancara itu mendengar jawaban saya dan puji Tuhan, saya lolos dan mendapatkan beasiswa LPDP, despite my former stupidity.

Ketika PK, hampir semua temen ber-hah! ketika tahu tujuan universitas saya. Dan saya, sebagai anak yang selalu jujur, selalu menjelaskan kenapa saya bisa sampai memilih ICL. Ketika itu, pengetahuan saya akan universitas di luar negeri agak membaik, dibantu oleh teman-teman saya yang pintar-pintar itu (terima kasih banyak gaes aku jadi ndak ndeso lagi T___T). Saya juga sudah memperbaiki hasil research saya, sudah tahu betapa mengerikannya bersekolah di ICL. Universitas sebaik itu tentu menuntut kerja keras yang tidak sedikit, dengan standar yang tinggi, jadwal yang super padat, tugas yang melimpah, dan London, biaya hidup yang tidak murah. Saya goyah, tentu saja saya goyah. Sudah gitu, saya tahu bahwa kesempatan diterima di sana cukup....rendah. Saya tidak jenius. Universitas asal saya tidak luar biasa. Tulisan saya biasa saja. Gimana mau diterima...

Tapi terus terang, ketika itu saya masih belum membuka-buka universitas di negara lain. Kenapa? Karena malas. Mencari itu cukup melelahkan, melelahkan pikiran dan mata. Jadi saya menunda-nunda. Terus suatu hari, saya ditelepon oleh seorang teman satu PK.

T : ai, yakin mau kuliah di Inggris?
A: hmm yakin, gamau belajar bahasa baru...
T : tau gak, kuliah di Inggris itu rugi, cuma setaun.
A : lah bagus lah, malah cepet.
T : yeee. lo cukup belajar cuma setaun? lo ga dapet apa-apa tau.
A : ga dapet apa-apa gimana?
T : ya lo setaun cuma di perpus doang. lagian, lo ganti bidang kan, setaun itu lo belum cukup belajarnya. kalo pun lo kuliah di bidang yang sama, setaun itu lo ga belajar apa-apa yang baru, ngulang doang. kecuali lo cuma ngejar ijazah buat advance-in kerjaan lo gitu misalnya, baru UK oke karena cepet.
A : *diem aja lama mikir*
T : heh
A : eh iya. hm. masuk akal sih.
T : coba deh lo buka NTNU, TU Delft, apa ETH Zurich gitu**
A : gamau NTNU dingin, ETH Zurich harus pake bahasa Jerman. gue udah buka TU Delft, ga ada..
T : adaaaa, sustainable energy kan? adaaaaaa.
A : oke nanti gue coba buka deh
T : pertimbangin yah ai
A : oke

Pada waktu yang kurang lebih sama, Bapak saya baru ngobrol sama orang. Percakapan Bapak dengan orang itu begini.

B : *pamer* anak saya dapat beasiswa LPDP
O : oh ya? ke mana?
B : rencananya ke Imperial College London
O : you allowed her to go to Imperial College London?
B : *kaget* kenapa?
O : mahal Pak
B : kan dibayarin negara
O : saran saya jangan, uangnya mepet, apalagi kalo anak Bapak biasa semuanya ada di sini. rugi juga Pak cuma setahun, belajarnya kurang, berat pula di Imperial
B : iya sih, itu kuliahnya memang sepertinya berat sekali.

Lalu si Bapak mulai nanya-nanya ulang keputusan saya dan kasih masukan buat cari universitas yang lain. Waktu itu saya rada-rada seteres juga. Terus dengan sok PD saya jawab, ada kok Pak alternatif yang nggak di Inggris, TU Delft Belanda. Padahal baru banget hari sebelumnya ngecek kalo emang ada program studinya. Omong-omong TU Delft, anehnya, universitas ini saya tau. Kenapa? Karena di dunia Oseanografi dan Teknik Kelautan, universitas ini cukup terkenal, terutama untuk urusan bangunan pantai. Bahkan UNDIP pernah bekerja sama dengan TU Delft. Waktu saya dateng ke kuliah umum yang diadakan profesor dari TU Delft ini sungguh saya kagum. Duh keren amat ini universitas yah, pengen deh sekolah di sini. Iya, saya sempat mbatin demikian. Waktu itu saya sampai buka-buka webnya, dan perasaan saya ngga nemu tuh program sustainable energy, makanya saya bilang sama si temen kalo nggak ada. Taunya itu beneran cuma perasaan, karena nyatanya ada ehehehe.

Dimulailah pergumulan saya. London atau Delft. Bapak saya, yang orangnya super duper rajin sekali, begitu dengar nama universitas ini, langsung buka webnya dan menelaah informasi di dalamnya. Lalu beliau memutuskan untuk meng-encourage  saya untuk memilih TU Delft. Untuk beberapa waktu, saya cengar-cengir doang kalo ditanya. Masih berdoa. Lalu menimbang banyak hal (kurikulum, masa studi, kesempatan magang, beban kuliah, biaya hidup sehari-hari, keindahan kota, tingkat hedonisme kota, termasuk ketersediaan makanan Indonesia), akhirnya saya memutuskan untuk pindah tujuan studi ke TU Delft. Banyak yang bertanya, banyak yang menyayangkan, bahkan ada yang mencela, but hey it's my life guys. I let people give me suggestions but I don't let people's opinions get to me in an unnice way (btw, is unnice a word? I'm not sure).

Kemudian saya mendaftar ke 5 perguruan tinggi berbeda, just in case, sambil terus berdoa minta peneguhan. Sambil mendaftar, saya menyusun priority list, ini daftarnya :
1. Sustainable Energy Technology, Delft University of Technology
2. Sustainable Energy Systems, University of Edinburgh (nomor 2 karena profesor idola ada di sana dan kurikulumnya juga juara!)
3. Sustainable Energy Futures, Imperial College London
4. Renewable Energy and Clean Technology, University of Manchester
5. Renewable Energy Enterprise Management, Newcastle University

Kenapa sampai ada priority list? Karena bisa aja saya diterima semua. Kadang kelimpahan rezeki itu juga ujian  yang bahkan lebih berat dibanding kekurangan rezeki.
Kenapa tetap daftar ICL? Karena takut pengajuan perpindahan tujuan perguruan tinggi ditolak LPDP karena peringkat overall TU Delft JAUH BANGET di bawah ICL (walaupun peringkat untuk Fakultas Teknik-nya cukup dekat di bawah ICL, tapi tetap aja di baawah).

Saya submit semua berkas saya pada hari yang sama. Hasil pertama yang saya terima berasal dari TU Delft dan menyatakan saya diterima. Saya lega luar biasa. Senang. Mereka bilang, tunggu 6 minggu, nyatanya dalam 2 minggu saya sudah menerima hasilnya. Saya percaya itu salah satu tanda bahwa saya memang diizinkan oleh Tuhan untuk kuliah di TU Delft. Lama kemudian (yas, lama kemudian), satu per satu surat penolakan dan surat penerimaan bermunculan, tapi belum ada kabar juga dari ICL. Untuk alasan yang saya sendiri juga nggak tau apa, saya mau tunggu pengumuman ICL baru mengajukan pindah ke LPDP. Kalau ditanya orang, saya jawab, kalau ditolak, surat penolakannya mau kulampirkan. Sampai suatu hari Mama saya jengkel karena saya menunda-nunda terus dan saya ditegur. Akhirnya saya mengajukan perpindahan ke LPDP. Sekitar dua minggu kemudian, LPDP menyetujui perpindahan saya dan mengirimkan draft kontrak beasiswa. Sehari persis setelah saya menerima surel dari LPDP, saya menerima surel dari ICL yang menyatakan saya diterima. DITERIMA. Saya senang sekali, sungguh teramat senang sekali. Saya senang, karena LPDP sudah menyetujui perpindahan universitas tujuan belajar saya, yang berarti saya sudah tidak bisa berubah pikiran lagi, jadi saya sudah tidak perlu galau-galau milih universitas, juga karena saya diterima di universitas ajaib yang sebelumnya saya belum pernah dengar. Cah ndeso iki ketompo. HAHA. Maafkan, saya memang agak pamer. It was beyond imagination to get an offer from ICL, I'm sure I was just being extremely blessed and lucky.

Sekarang, saya sudah terdaftar di TU Delft. Jika Tuhan izinkan, saya akan berangkat ke Delft bulan Agustus 2016 dan mulai kuliah bulan September 2016. Menyesalkah saya? Tidak. Sejauh ini saya senang, dan saya harap sampai selesai kuliah saya tetap senang terus dan tidak menyesal. Apakah ada what ifs? Yah, kadang ada. Tapi what ifs sombong. 'Gimana ya kalo ditanya sama orang, terus bilang mau kuliah di ICL? Pasti keren banget.' Tuh kan, belum apa-apa aja udah jelek pikirannya. Makanya, saya merasa pilihan ini tepat untuk saya dan saya tidak menyesal ^^

A long forgotten dream, here I come. 
Indonesia, wait for me to be back home.











** ini universitas yang disebutkan temen saya, beserta link ke webnya, biar tau :p
NTNU : Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (Norwegian University of Science and Technology)
ETH Zurich : Eidgenössische Technische Hochschule Zürich, (Swiss Federal Institute of Technology in Zurich)
TU Delft : Technische Universiteit Delft (Delft University of Technology)

Bonus. Link ke universitas-universitas lain yang saya sebutkan.
- Harvard University, Amerika Serikat
- Oxford University, Britania Raya
- Johns Hopkins University, Amerika Serikat
- Imperial College London, Britania Raya
- University of Edinburgh, Britania Raya
- University of Manchester, Britania Raya
- Newcastle University, Britania Raya

Comments

  1. Salam kenal Mba Aida, aku Eddo dari PK-59 dan ceritaku mirip2 Mba diatas. Syukurlah nemu blog ini karena aku udah ditolak dua kampus top dunia, UCLA dan ETH Zurich (karena ambisius tapi kurang realistis hahah). Bedanya tapi aku ditolak kampus tujuan pertamaku (UCLA), tapi kalo mba dapet ICL yg terlanjur udah ga diambil

    Doakan juga ya mba sekarang mau coba daftar kampus yang ranknya dibawah mereka (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Eddo :)
      Gapapa, ambisius itu perlu. Jatuh juga perlu, jadi gapapa :)
      Semangat yah semoga segera mendapat universitas yang terbaik.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Beasiswa LPDP #5 - Persiapan Keberangkatan (PK)

Beasiswa LPDP #4 - Pra PK